Sedih dan Bahagia di Hari Raya

Oktober 15, 2008

REPUBLIKA, 2008-09-30 06:52:00

 

Sedih dan Bahagia di Hari Raya

Muh Ghafur Wibowo
Dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Allah SWT telah melimpahkan berbagai perasaan di dalam hati manusia sebagai respons atas segala sesuatu yang dialami atau dirasakannya. Ada perasaan gembira, marah, benci, sayang, bahkan juga sedih dan bahagia.

Salah satu hikmah terbesar dari adanya berbagai macam perasaan tersebut adalah agar manusia merasakan dan mengakui kebesaran Allah Yang Maha Agung. Dua macam perasaan yang sering menghinggapi manusia di dalam hari-harinya adalah sedih dan bahagia.

Sedih (al-hazanu) muncul dari sesuatu yang tidak diinginkan, tidak disukai, tidak disenangi, atau rasa benci di dalam hati (Yamin, 2008). Adapun bahagia (as-sa’aadah) sebaliknya muncul dari sesuatu yang diinginkan, yang disukai, atau yang disenangi oleh hati.

Kedua perasaan tersebut dapat muncul karena hal-hal yang bersifat material (misalnya harta benda) maupun nonmaterial (termasuk spiritual). Ketika bulan Ramadhan berlalu digantikan oleh bulan Syawal (Hari Raya Idul Fitri), perasaan apa yang berkecamuk di dalam hati seorang Muslim?

Akankah ia bersedih hati ditinggalkan Ramadhan ataukah ia berbahagia karena kepergiannya? Kedua perasaan ini bisa saja hadir bersamaan, bisa pula hadir secara sendirian, tergantung pada pemahaman dan cara pandang yang digunakan.

Sedih di hari raya
Bagi hamba yang paham betul tentang berbagai keutamaan bulan Ramadhan, maka pasti kepergiannya menyebabkan kesedihan yang teramat sangat. Bagaikan seorang ayah dan ibu yang akan ditinggal pergi oleh anaknya merantau ke tempat yang jauh dalam waktu yang sangat lama. Muncullah pertanyaan, masihkah akan bertemu kembali suatu saat nanti?

Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan pelipatgandaan pahala amal ibadah yang tidak ditemui di bulan-bulan lain. Bulan Ramadhan adalah sayyidusy syuhuur atau rajanya bulan. Berpisah dengannya tentu merupakan sebuah kehilangan yang teramat besar, mengingat tak ada yang bisa memastikan tahun depan masih bertemu kembali.

Para sahabat Rasulullah SAW dahulu justru sangat bersedih ketika Ramadhan akan segera berakhir. Seperti sabdanya sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas’ud: Sekiranya para hamba (kaum Muslim) mengetahui kebajikan-kebajikan yang dikandung bulan Ramadhan, niscaya umatku mengharapkan Ramadhan terus ada sepanjang tahun. (HR Abu Ya’la, ath-Thabrani, dan ad-Dailami). Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Bahkan, sebagian mereka menangis karena akan berpisah dengannya.

Kesedihan Rasul dan sahabat juga muncul karena kekhawatiran jika amal-amal mereka selama Ramadhan tidak diterima oleh Allah. Mereka lebih mementingkan aspek diterimanya amal daripada bentuk amal itu sendiri. Mereka memahami bahwa Allah hanya akan menerima setiap amal kebaikan dari hamba-hamba-Nya yang bertakwa (QS [5]:27). Yakinkah kita termasuk hamba-Nya yang benar-benar bertakwa?

Oleh karena itu, mereka berdoa (memohon kepada Allah) selama enam bulan agar dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan, kemudian berdoa lagi selama enam bulan berikutnya agar semua amalnya diterima. Jangan sampai mereka termasuk orang-orang yang disebutkan Rasulullah: “Betapa hina seseorang jika Ramadhan datang, kemudian pergi, sedangkan ia belum diberi ampunan.” (HR at-Tirmidzi).

Bahagia di hari fitri
Sebagai kebalikan dari perasaan sedih, rasa bahagia muncul ketika ada sesuatu yang diinginkan, yang disukai, atau yang disenangi di dalam hati. Kebahagiaan yang dirasakan seorang Muslim ketika ia menjumpai Idul Fitri adalah karena keyakinan akan balasan Allah SWT atas orang-orang yang bertakwa.

Sungguh keberadaan ampunan dan pembebasan dari api neraka itu tergantung kepada puasa Ramadhan dan pelaksanaan shalat di dalamnya. Maka di kala hari raya tiba, Allah memerintahkan hamba-Nya agar bertakbir dan bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka.

Berbagai nikmat Ramadhan yang diterima di antaranya adalah kemudahan dalam pelaksanaan ibadah puasa, ampunan atas segala dosa dan pembebasan dari api neraka. Karena itu, sudah selayaknya setiap hamba memperbanyak dzikir, takbir, dan bersyukur kepada Tuhannya serta selalu bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketakwaan.

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur. (QS Albaqarah:185).Jadi, kebahagiaan yang dirasakan seorang Muslim di hari Lebaran bukanlah karena pakaian baru, rumah tertata, atau mobil mengkilap. Kebahagiaan yang hakiki di hari raya ini adalah karena diraihnya berbagai keutamaan Ramadhan yang telah Allah janjikan.

Kebahagiaan muncul karena kemenangan yang diraih atas peperangan melawan hawa nafsu dan godaan setan selama Ramadhan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dipesankan Imam Syafi’I: Idul Fitri bukanlah diperuntukkan bagi orang yang mengenakan sesuatu yang serbabaru, tetapi dipersembahkan bagi orang yang ketaatannya bertambah. Dengan demikian, aneh rasanya jika ada orang yang tidak melaksanakan berbagai ibadah di bulan Ramadhan, tetapi ia paling semangat dalam merayakan Idul Fitri.

Kebahagiaan dan kesedihan merupakan urusan hati. Ini karena hati merupakan pusat kesadaran manusia (Khalil, 2007) sehingga guncangan dalam hati dapat memengaruhi keseimbangan emosional manusia. Sebagai jawabannya, guncangan dalam hati hanya bisa ditenangkan melalui kedekatan pada Allah Yang Maha Tenang. Karenanya, sangat penting bagi setiap Muslim untuk kembali merenungkan hakikat Idul Fitri agar bisa menghadirkan rasa sedih dan bahagia di hari raya secara proporsional.


Remaja dan Tokoh Idola

September 18, 2008

Sekarang ini remaja tidak lagi mengidolakan tokoh-tokoh yang patut diidolakan seperti seorang politikus ataupun seorang negarawan tapi mereka lebih mengidolakan pada seseorang yang menurut mereka mengerti akan kebutuhan mereka dan gaya hidup mereka seperti seorang seniman (aktor-aktris) atau olahragawan. Demi idola mereka tersebut tak jarang remaja mengikuti gaya berpakaian, penampilan, serta tingkah laku idola mereka. Remaja akan mengikuti segala perkembangan idola mereka, dan akan marah bila melihat idola mereka berbuat kesalahan maupun berbuat sesuatu yang tidak mereka inginkan, karena mereka melihat sosok yang diidolakan harus sesempurna mungkin. Selain itu remaja sulit menerima jika tokoh idola mereka dikritik oleh pihak lain.

Salah satu contoh bagaimana remaja memuja tokoh idolanya dapat terlihat pada banyaknya remaja; khususnya remaja putri yang “tergila-gila” dengan salah-satu grup musik sampai-sampai mereka mengkoleksi seluruh benda yang berhubungan dengan grup musik tersebut. Tidak hanya sampai disitu mereka pun rela mengikuti gaya busana grup musik tersebut, meskipun untuk mendapatkannya harus mengorbankan uang jajan atau bahkan uang sekolah.

Tak jarang demi seorang tokoh idola remaja rela mengorbankan waktu belajar bahkan sampai sampai berani mempertaruhkan nyawanya demi sebuah tanda tangan seperti yang terjadi belum lama ini pada sebuah acara meet and greet dengan salah satu grup musik mancanegara di sebuah mall di Jakarta. Ribuan remaja ABG yang hanya ingin melihat dari dekat wajah-wajah para idola mereka saling berdesakan dan terlibat aksi dorong-mendorong sehingga mengakibatkan tewasnya beberapa remaja putri.

Faktor Penyebab

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa remaja cenderung mengidolakan para celebritis dan rela mengikuti gaya hidup maupun gaya busananya. Beberapa ahli berpendapat bahwa remaja cenderung mengidolakan seseorang di luar lingkungan keluarganya, misalnya seorang pemusik ataupun seorang pemain film, dikarenakan tokoh idola di dalam rumah yakni kedua orang tua, kakak ataupun adiknya, ternyata cenderung tidak layak diidolakan. Beberapa keluarga kini mengalami krisis tokoh idola, karena orang tuanya lebih sering berada di luar rumah daripada mendidik anaknya. Situasi ini diperburuk lagi dengan banyaknya tayangan televisi yang lebih menonjolkan unsur-unsur komersialisme dan hedonisme dibandingkan tayangan bermutu yang penuh ajaran moral dan mendidik. Maraknya penggunaan komputer dan internet yang semakin memberi ruang bagi berkembangnya situs-situs yang tidak mendidik sehingga semakin sulit bagi orangtua untuk mengendalikan perilaku anak-anaknya.

Peran media elektronik ini sangat berpengaruh bagi remaja dalam memberikan informasi tentang gaya hidup dan cenderung memberikan penghargaan berlebihan untuk gaya hidup hura-hura dan glamour. Gambaran yang ditampilkan dalam sinetron ataupun acara televisi lainnya lebih banyak bersifat meninabobokan masyarakat khususnya remaja pada gaya hidup yang penuh kesia-siaan. Oleh karena itu peran orangtua sangatlah diperlukan dalam mendampingi putra-putrinya selama menjalani masa remaja. Sekali orangtua gagal mengarahkan anak remajanya maka akan dapat berakibat sangat buruk bagi kehidupan remaja di masa mendatang


Hello world!

Mei 23, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!